News Update!

Selasa, 18 Juli 2017

SUSUNAN PENGURUS NU 2017 - 2022

Daftar Susunan pengurus NU Ranting Sumbersuko MWCNU Gempol masa khidmat 2017 - 2022
~~~~~~~~~~
Mustasyar NU
1. Drs. H Suparman
2. Dr. Khumaidi, M.Si
3. Mashudi Luthfi,S.AP
~~~~~~~~~~~
Rois Suriyah NU
Rois Suriyah : Ust. H. Syamsul Huda
Wakil Rois 1 : H. Badrus Sholeh
Wakil Rois 2 : Ust. Khoiron Rosyadi, S.Ag
Wakil Rois 3 : H. Abdul Aziz
~~~~~~~~~~
Khatib
Ketua : Ust. M.Suaib
Wakil 1 : Rofid, S.PdI
Wakil 2 : Ponirin
Wakil 3 : M. Ibadillah
~~~~~~~~~~
A'wan
1. Ust. Kasuri
2. Ust. Burhanuddin
3. Totok wahyudi
4. M. Danuri
5. Nur Komari
~~~~~~~~~~
Pengurus harian Tanfidzyah
Ketua : Ust. Andurrohman syukur
Wakil ketua 1 : Ust. Damuji
Wakil ketua 2 : Ust. Muhsidi Amien
Sekretaris : A.Dimyati
Wakil Sekretaris : Ismail, S.Ag. P.GSd
Bendahara : H. Usman
Wakil Bendahara : Muhammad Tholib

Minggu, 11 Juni 2017

TRADISI 'SULTHAN PENANGGUNGAN'

Oleh : Admin 

Santunan Yatim Piatu dan Kaum Duafa
Alhamdulillah tadi siang sudah selesai di 30 titik. Berbagi kebahagiaan dengan sebagian anak yatim dan kaum dhuafa di Desa Sumbersuko. Insya Allah dilanjut besok untuk titik yang belum tersentuh. amin barokalloh ...

 Sejatinya "Sulthan Penanggungan", bahwa nama itu diberikan oleh Bapak Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) sewaktu mengisi pengajian di lapangan Desa Sumbersuko tahun 2011. Beliau berpesan untuk uri-uri dan menggali potensi-potensi yang ada di sekitar Gunung Penanggungan, makanya beliau memberi nama "Sulthan" yang diambil dari Surat Ar-Rahman ayat 33:

يَٰمَعْشَرَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ إِنِ ٱسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا۟ مِنْ أَقْطَارِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ فَٱنفُذُوا۟ ۚ لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَٰنٍ ﴿٣٣

"Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan KEKUATAN."

Jadi makna "Sulthan" di sini adalah kekuatan, kalau kita perluas bermakna ilmu, pengetahuan, teknik, cara, dst. Maka menjadi tugas kita semua untuk menjadi "sulthan" di daerah masing2 sesuai dengan potensi yang ada.

tutur Masyhudi Luthfi, selaku ketua SP Desa Sumbersuko 



Semoga syiar ini terus berlanjut setiap tahunnya...amin

Kamis, 01 Juni 2017

STRATEGI NU RANTING SUMBERSUKO DALAM MENANGKAL GERAKAN ISLAM RADIKAL

Oleh : 
Adim
Admin 
Foto Ilustrasi 


Perubahan gerakan islam saat ini memang cenderung berbalik arah dari awal tahun 2000 silam, yang sebenarnya pada tataran doktrin ajaran islam mengajarkan kedamaian dan keselamatan bagi semua umat. Saya tidak memungkiri bahwa Indonesia harus di selamatkan, saya harap ini momentum yang tepat untuk artikel ini,
berikut saya kutip dari laman situs :

Islam Radikal menginginkan terlaksananya syariat Islam dalam bentuknya yang murni dan otentik, yang diajarkan Al-Quran dan dipraktikkan oleh Rasulullah saw. Murni, berarti tidak ada unsur-unsur luar yang masuk ke dalamnya. Tolok-ukurnya adalah Al-Quran dan sunnah. Segala yang berasal dari luar harus ditolak dan dipandang bid’ah. Sebab, bagi mereka, Islam yang ideal adalah Islam yang dipraktikkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Islam seperti itulah yang harus dihadirkan kapan pun dan di mana pun, karena, Islam sesuai untuk segala ruang dan waktu (shalihun li kulli zaman wa makan).
Dengan pemahaman seperti itu mereka selalu berorientasi ke belakang; dan membagi dunia menjadi dua : Allah atau thagut, syariat Islam atau syariat kafir, Negara Islam (Dar al-Islam) atau Negara Musuh (Dar al-Harb), Masyarakat Islam atau Masyarakat jahiliyah, Partai Allah (Hizb Allah) atau Partai Setan (Hizb asy-Syaithan). Di situ tidak ada kompromi dan setengah-setengah. Apa yang datang dari Allah pasti benar dan baik, dan karena itu harus diterima dan dilaksanakan. Sedangkan yang berasal dari selain Allah pasti salah dan buruk, dan karena itu harus ditolak dan dibasmi.
Sumber : http://liputanislam.com/terorisme/akar-kemunculan-islam-radikal-di-indonesia-menurut-prof-afif-muhammad-1/
Dalam konstelasi politik di Indonesia, masalah radikalisme Islam telah makin membesar karena pendukungnya juga semakin meningkat. Akan tetapi, gerakan gerakan radikal ini kadang berbeda pandangan serta tujuan, sehingga tidak memiliki pola yang seragam. Ada yang sekedar memperjuangkan implementasi syariat Islam tanpa keharusan mendirikan “negara Islam”, namun ada pula yang memperjuangkan berdirinya “negara Islam Indonesia”, disamping itu pula da yang memperjuangkan berdirinya “khilafah Islamiyah”.

Pola organisasinya juga beragam, mulai dari gerakan moral ideology seperti Majelis Mujahidin Indonesai (MMI), Hizbut Tahrir Indonesia serta yang mengarah pada gaya militer seperti Laskar Jihad, Front Pembela Islam, dan Front Pemuda Islam Surakarta. Meskipun demikian, ada perbedaan dikalangan mereka, ada yang kecenderungan umum dari masyarakat untuk mengaitkan gerakan-gerakan ini dengan gerakan radikalisme Islam di luar negeri.

Radikalisme yang berujung pada terorisme menjadi masalah penting bagi umat Islam Indonesia dewasa ini. Dua isu itu telah menyebabkan Islam dicap sebagai agama teror dan umat Islam dianggap menyukai jalan kekerasan suci untuk menyebarkan agamanya. Sekalipun anggapan itu mudah dimentahkan, namun fakta bahwa pelaku teror di Indonesia adalah seorang Muslim garis keras sangat membebani psikologi umat Islam secara keseluruhan.

Berbagai aksi radikalisme terhadap generasi muda kembali menjadi perhatian serius oleh banyak kalangan di tanah air. Bahkan, serangkaian aksi para pelaku dan simpatisan pendukung, baik aktif maupun pasif, banyak berasal dari berbagai kalangan.

Oleh sebab itu perlu adanya upaya dalam rangka menangkal gerakan radikalisme di Indonesia. Disini peran NU di uji, sejauh mana peran NU dalam menghadapi gerakan tersebut. Dengan semangat toleransi dalam menebarkan Islam yang penuh kedamaian serta rahmatanlilAlamin, penulis yakin NU mampu menghadapi gerakan tersebut.



Sejak  tahun 2007, abah Yasin merekrut saya untuk aktif di MWCNU Gempol  menjadi anggota pengurus divisi Lembaga Perekonomian NU, periode berikutnya 2012-2017 tetap di lembaga perekonomian NU yang di ketahui Sdr. Sulaiman Abbas dari Desa Wonosari

Bersama itu pula saya aktif di kepengurusan Ranting NU sejak tahun 2007 di tunjuk  oleh Al Marhum Abah Yasin Luthfi, BA untuk membantu administrasi yang saat itu di ketuai oleh Bpk H. Sirjuddin ketua tanfizd Dusun Kaliputih dan Bpk H Miskan Afandi selaku Rois Suriyah dari Dusun Bumbungan, kegiatan rapat, pengajian, tarling dsb, serta program lain juga kami laksanakan setiap bulannya. Termasuk yang lebih fenomenal adalah ‘Lailatul Ijtima’ sebuah aktivitas NU yang jarang ditemui di ranting ranting desa lain, sebenarnya ini tadisi leluhuru ulama’ NU yang hampir mati, kami menyebutnya ‘perjamuan malam terakhir’ (minggu terkhir setiap bulannya) acara ini di isi kegiatan sholat taubat, lidaf’il bala’, birrul walidain, litsubutil iman, tabih, dan sholat hajat lalu dilanjutkan dengan bacaan Yasin dan Istighosah, ceramah mauidho Hasanah di tutup dengan doa’ lalu ramah tamah.

Sumbersuko terdiri dari 12 dusun dan 3 dusun ikut satu kasun jadi ada 15 Dusun. Semuanya kami jadwal bergiliran untuk mendapat jatah acara Lailatul Ijtima’. Untuk konsumsi apa adanya gak perlu mewah yang penting acara jalan. Di koordinir masing masing kasun atau tokoh masyarakat setempat, dengan jumlah tokoh NU di Sumbersuko sebanyak 121 orang aktif. Hal akan meningkatkan kesadaran masyarakat lain akan pentingnya tradisi NU, apalagi Masyarakatnya Isnyaalloh 99 % NU.

Sekitar tahun 2012  pengaruh yang lebih berdampak atas kemajuan ranting NU Sumbersuko ada pada buletin bulanan, di buletin tersebut menyajikan artikel-artikel dari situs nu.or.id dan lain-lain sehingga semangat warga dalam mengikuti lailatu Ijtima’ meningkat tajam, dalam acara Lailatul Ijtima’ kami undang 10 orang tokoh NU dari masing-masing dusun se desa Sumbersuko. Serta mengajak tetangga sekitarnya termasuk muslimat NU.

Pada saat yang sama kepengurusan di tingkat ranting Sumbersuko juga harus ada pergantian karena masa periode sudah habis. Satu tahun sebelum pemilihan pengurus ranting kami mencari kader kader tokoh masyarakat lulusan pesantren yang belum masuk jajaran kepengurusan antara lain, Ust Anshori Pemangku Pesantren Darul Falah 84  Dusun Sumbersuko II dan Ust. Abdurrohman Dusun Sumberbendo pemilik lembaga pendidikan TPQ kedua duanya sama-sama top dalam keilmuannya.

Rapat kepengurusan NU periode 2012-2017 di laksanakan di rumah Bpk H Miskan Afandi Dsn Bumbungan selaku Rois Suriyah. Yang dihadiri sekitar 50 orang tokoh, namun sebelumnya kami menentukan agar bagaimana Ust. Abdurrohman jadi ketua Tanfidznya dan Ust. Anshori duduki jajaran Rois Suriyah, alhamdulillah semua berjalan lancar, Ust. Abdurrohman menjadi Ketua tanfidz. Dan terdiri dari beberapa anggora pengurus baru sekitar 30% untuk menggantikan yang sudah sepuh

Bpk H Miskan F dan H Sirajuddin tetap menjadi Rois Suriah anggotanya Bpk H Zakariyah. H Asnan Jatikunci, pertengahan tahun 2014 karena sudah uzur faktor usia H Miskan afandi selaku rois suriyah minta digantikan jabatannya, kami tidak berfikir panjang untuk mencari penggantinya karena banyak tokoh NU di jajaran perangkat desa Sumbersuko yang belum masuk di pengurusan ranting NU, beberapa hari kemudian, saya sendiri selaku sekretaris tanfidz meminta kesediaan Kaur Kesra dan Sekretaris Desa H. Samsul Huda dan Drs. H Suparman untuk menjabat posisi di Rois Suriyah NU, dan alhamdulillah ternyata semuanya lancar dan direstui.

Setelah adanya perubahan kepengurusan ini justru NU semakin menggema dan terkonsep denga rapi, dengan hadirnya 2 orang tokoh Umara’ tersebut, sehingga klop antara ulama dan umara’ di Desa Sumbersuko berjalan bersama, seirama dan seimbang. Sehingga pengikatan ini terjadi dalam elemen kegiatan pemerintah desa lainnya. Setiap pemerintah akan mengadakan program kegiatan selalu melibatkan NU dimana dan kapanpun itu, pengajian Akbar, live TV, Jtv dan lain lain.

Dengan adanya jajaran pemerintah desa dan tokoh karang Taruna dilibatkan dalam kepengurusan NU maka  tidak mustahil karang Taruna desa dan pemerintah desa selalu mengisi kas keuangan setiap bulan ke NU minimal 100 ribu rupiah, hal ini untuk mendukung setiap acara yang di adakan NU ranting Sumbersuko.

Masa-masa paling terkenang di acara LI dusun bendungan dengan pengantar ‘siir wathon’ sebelum acara lailatul Ijtima’ dilaksanakan dan dusun Kemuning serta dusun lainnya. Saya sendiri yang melantunkan siir itu, ya begitu damai dan sejuk.  

Apalagi kalau sudah mendekati waktu jadwal LI Kami ketik ketik sendiri undangannya, kami bagi sendiri ditulis sendiri. Sering kami mengundang pengurus MWCNU gempol untuk acara LI dan Tarling mereka begitu semangat dan antusias melihat warga NU Sumbersuko dalam menghadiri LI

Sekarang semakin banyak yang terlibat acara NU seperti Sdr. Suwandi yang protokoler acara selaku A’wan NU, Bpk. cukup tekang kebun yang selalu semangat membagikan undangan, Tausiah dan sholat sunnah, Ust Samsul Huda dan Ust Abdurrohman, waktu itu saya sendiri jarang sekali mengikuti LI karena kesibukan.

Saya cerita sedikit pengalaman beberapa tahun yang lalu. Pada suatu saat, ada seorang habib dari bangil akan mengadakan maulid Akbar di Desa Sumbersuko dengan tradisi ancak agung,(tumpeng raksasa di sanggul 8 orang) bakda Isya’ di adakan rapat pembentukan panitia saya di daulat jadi sekretaris dan Pak Jamal jadi ketua panitia ketua konon waktu itu biayanya tidak cukup 50 juta untuk acara Maulid Akbar. Jangankan isi berkatnya kantong plastik pun di cetak dalam pesanan khusus tertera nama ketua dan sekretaris, alhamdulillah acaranya berjalan sukses. Keesokan harinya beliaunya si habib datang kerumah saya meminta agar di Sumbersuko di adakan tradisi pengajian  si habib tersebut, dengan jaminan semua usaha saya Opak Gambir, BringinNET, ATK  di danai. Sungguh luar biasa, namun hal ini tidak saya laksanakan, jika saya laksanakan tentu akan benturan dengan tradisi Lailatul Ijtima’  (LI) yang sudah membudaya di Desa ini, maka dengan kerendahan hati saya menolak tawaran tersebut. Saya tidak menyebutkan ini dari kelompok atau aliran mana ... tapi mari kita sebagai umat islam bersatu padu berpegangan tangan untuk tetap menjunjung tinggi NKRI, saling asah asih asuh. Saling menjaga budaya dan tradisi yang ada, karena Indonesia sudah di takdirkan atas keberagaman dan Bineka Tunggal Ika

Dari peritiwa ini  kita dapat menarik kesimpulan agar NU di tingkat ranting tetap kokoh, karena ini pengalaman di desa saya sendiri:

1.     Tradisikan lailatul Ijtima’ sebulan sekali
2.     Buat buletin di lampiran undangan LI sebarkan.
3.     Maksimalkan anggaran dari pemerintah setempat untuk kegiatan yang bermanfaat
4.     Rekrut perangkat desa sebagai jajaran pengurus NU

Sebelum aritikel ini selesai saya tulis kebetulan ada hal baru yang perlu saya sampaikan
Berikut saya kutip dari laman Facebook Pak Wachid Hasyim, atas ceramah guru saya KH Sholeh Bachruddin

PANCASILA
Beberapa dawuh Romo Kyai Sholeh Bahruddin tentang "Pancasila" beserta urgensinya dalam beberapa kesempatan. Dawuh tersebut menyiratkan pesan, bahwa Pancasila sebagai asas bernegara sudahlah final:
Aku babat pondok Ngalah tepate dino Jum’at, bulan Dzulhijjah tahun 1985, Lan Yayasan Darut Taqwa didirikan Kyai Bahruddin tahun 1977:
Asas Darut Taqwa wonten tigo:

1) Pancasila
Pancasila di Darut Taqwa sangat dijunjung tinggi, karena nilai-nilai pancasila digali dari nilai-nilai luhur budaya bangsa, dan merupakan pancaran dari nilai-nilai luhur budaya bangsa dan dari nilai-nilai ajaran islam (al-Qur’an dan al-Hadits), seperti ketuhanan, kemanusiaan dan persatuan.

2) UUD 45
Kedua asas di atas mencerminkan bahwa pendiri memiliki jiwa nasionalis yang tinggi.
3) Ahlussunnah Wal Jama’ah
Karena di dalamnya terkandung nilai-nilai tasammuh, tawassuth, tawazzun, ta’addul. (Dawuh sekitar 2004 silam)
Pancasila lan NKRI iki adalah harga mati, soale perjuangane bien soro, bapak (Kyai Bahruddin) bien yho melu berjuang, ngantek-ngantek bapak ditahan dek penjara sentanan Mojokerto gara-gara merjuangno Pancasila. (Dawuh, 2010 silam)
***
Sumpah santri pondok pesantren Ngalah Jum’at, 19.00 WIB 04 Agustus 2006 di serambi masjid Ngalah.
Wes arek-arek kabeh dino iki seliramu kabeh tak ba’iat, tirokno aku yoo:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Saya berjanji: 
1) Berpegang teguh pada Pancasila dan UUD 1945
2) Berbakti dan patuh pada kedua orang tua dan guru
(Baiat Romo Kyai Sholeh Bahruddin kepada santri, di serambi Masjid Ngalah, Jum'at (4/8) 2006 silam)
Kenapa orang Islam bisa masuk aliran keras (radikalisme)?
Jawab: Karena keterbatasan ilmu agama (setengah pinter yoh setengah bodoh) alias pinter gak pinter, bodoh gak bodoh.
Bagaimana cara menanggulanginya?
Jawab: Mengamalkan Pancasila!. (Dawuh saat pengajian Tafsir, 2009)
Siswa-siswi, mahasiswa-mahasiswi Yayasan Darut Taqwa, dicetak sebagai intelektual yang berjiwa Pancasilais.
Kalau yang nyantri diniyah tok atau intelekendilen, dicetak sebagai ahli agama yang Pancasilais. (Dawuh saat pengajian Tafsir, dipenghujung 2009).

Awakmu kabeh kudu iso niru aku, masio nggak iso 100% nggak opo-opo. Minimal kudu Pancasilais (Dawuh Romo Kyai Sholeh Bahruddin di acara Temu Alumni Nasional, tahun 2015 lalu).

Selasa, 21 Maret 2017

RADAR KEMUNING


SEMOGA MENJADI KELUARGA YANG SAKINAH MAWADDAH WAROHMAH .. AMIN

Sabtu, 31 Desember 2016

SANTUNAN ANAK YATIM PIATU

SANTUNAN ANAK YATIM PIATU 
OLEH PEMERINTAH DESA SUMBERSUKO DAN KARANG TARUNA DESA
DI MASJID DUSUN BUMBUNGAN 2016














Rabu, 28 Desember 2016

MANGGA THAILAND

PORTAL SUMBERSUKO
Reporter : Adim
-------------------------------------- 




PT. Gudang Garam Tbk,  Direktorak Porduk Gempol merelisasikan program CSR yang kesekian kalinya, hal ini berawal dari beberapa tokoh masyakat yang ingin agar ada tanaman di halaman rumah masing-masing warga sehingga rumah menjadi sejuk dan terhindar dari hawa panas dan debu, disamping itu harapan warga agar Sumbersuko sebagai ‘Kampung Mangga Thailand’ atau kampung mangga Ok yong , pohon mangga jenis ini jarang dimiliki warga Sumbersuko soalnya satu pohon buahnya bisa lebih banyak dan harum baunya satu tahun bisa panen 3 kali  tandanya kalau masak kulitnya warna kuning keemasan beda dengan pohon mangga lainnya rasanya nikmat dan lezat.  

Sebelumnya H. Susianto telah mengakomodir atas permintaan warga pada rapat triwulanan di SDN Sumbersuko II Desa Sumbersuko sekitar bulan November lalu, pada musyawarah waktu itu beberapa warga juga meminta agar disusulkan juga untuk buah duku asli, akan tetapi disepakati waktu itu pohon mangga

Alhamdulillah ... beberapa minggu yang lalu program ini terelasisasi dengan baik dengan di datangkannya puluhan bibit mangga Thailand dari PT. Gudang Garam Sumbersuko di Garasi mobil H. Wahyudi, hadir dalam acara tersebut Pak Bayu bersama tim dari PT. Gudang Garam, Pak Niam dari Pemerintah Desa, Ust. Khoiron R wakil BPD,  dan H. Susianto bersama tim tokoh masyarakat. Pada waktu itu juga ada diskusi dalam hal cara bertanam sampai panen dan berbuah, jika sudah panen biji pohon mangga tersebut bisa di tanam menjadi bibit baru lagi begitu dan seterusnya,

Bibit pohon mangga di bagikan ke warga secara gratis di koordinatori oleh kasun Mushodikin, hal ini untuk mempermudah distribusi bibit pohon mangga ke warga, akan tetapi masih banyak warga yang belum kebagian, namun perlu diketahui program pembagian bibit pohon mangga ini adalah tahap awal dan pada saatnya nanti akan diberikan lagi bibit yang sejenis kepada dusun lainnya di Desa Sumbersuko.

Berikut tips dan trik cara menanam pohon mangga Thailand
Pohon mangga yang ditanam dekat rumah, atau di lahan sempit, sebaiknya sering di lakukan pemangkasan. Dilakukan setelah selesai panen. Pemangkasan bertujuan untuk mengatur percabangan pohon agar rapi dan enak dilihat. Jaga ketinggian tajuk pohon maksimal setinggi 3 meter, agar batang utama dan perakaran tidak cepat membesar yang berpotensi merusak bangunan di sekitarnya.
Pohon yang dijaga tidak terus tumbuh meninggi akan memudahkan saat panen. Ide seperti ini telah banyak di terapkan pada perkebunan buah-buahan di Thailand. Mereka rutin melakukan pemangkasan agar pertumbuhan melebar, tidak meninggi. Saat panen menjadi mudah. Tak perlu menggunakan tangga atau memanjat pohon. Cukup berdiri di atas mobil bak terbuka atau di atas traktor, telah dapat menjangkau buah, manfaat pohon sangat banyak antara lain seperti dirumah admin ada 2 pohon mangga gadung besar di depan rumah kanan kiri pohon ini tidak boleh ditebang karena pohon bisa menyerap racun disekitar rumah, hawa jadi sejuk udara jadi segar.
Bagaimana dengan pemupukan?
Melakukan perlakuan secara organik dengan mengocori dengan pupuk organik cair atau pupuk kandang seperlunya. Jeda waktunya 3 bulan sekali. Sebaiknya tidak menggunakan pestisida kimiawi maupun zat-zat hormonal perangsang untuk munculnya bunga. Lebih baik dibiarkan tumbuh alami sesuai dengan kodratnya. Dengan begitu tanaman akan sehat dan menghasilkan buah-buah organik yang sangat berkualitas.

Selamat berkebun mangga ...

Rabu, 07 Desember 2016

SEJARAH DUSUN JATIKUNCI

PORTAL SUMBERSUKO
Oleh : Adim
------------------------------


Peta Dusun Jatikunci (Cropping 2009)

Baru-baru ini pada tanggal 10 Oktober 2016 jam 7 malam kasun Jatikunci  Hadi Susanto berkunjung kerumah Admin untuk menceritakan peristiwa ditemuinya penunggu (Seng Baurekso) Dusun Jatikunci, dari berkomunikasi hingga pada penampakan foto beliau yang ditunjukkan pada admin, dari hasil kontak bathin, beliau itu Mbah Asyari waallohu a`lam, semua ini bertanda baik untuk kita semua, amin

Berikut sejarah dusun Jatikunci
Cerita ini dikisahkan dari hasil MUSDUS (Musyawarah Dusun) bulan Juli 2009
Terbentuknya dusun ini berawal dari datangnya seorang kakek bernama Mbah Asy`ari dimana waktu itu dusun tersebut masih berupa hutan Jati dan hutan mahoni sampai ke lereng gunung Penanggungan, sebenarnya orang yang bermana mbah Asyari berasal dari wilayah selatan yang sedang merantau kewilayah tersebut (dimana dulu banyak hutan rindang di bekas pabrik berkat) dalam masa perantauan di tempat itu mbah Asy`ari hendak membentuk perkumpulan warga untuk mendirikan sebuah kelompok kecil masyarakat dengan mengedepankan ajaran agama islam bernuansa kejawen, akhirnya hari demi hari Mbah Asyari sedikit megundang beberapa warga dari gunung penanggungan untuk diajak bermukim di sana (sekarang sebelah timur pabrik Varia Usaha, tbk) dalam kesehariannya para warga serta keluarga sesepuh belajar memahami ajaran islam yang konon waktu itu adalah sebagain besar warga beragama hindu yang bersumber dari candi belahan di wonosunyo mbah Asy`ari juga termasuk orang yang ahli dibidang ilmu agama terutama kadigdayaan.
Sebagian besar warga yang bermukim disitu mata pencahariannya adalah mencari kayu dan menanam ubi-ubian. Untuk warga yang menjadi ternak tidak ada waktu itu dan kondisi airpun juga sedikit kesulitan di tengah dusun kecuali yang ada di sebelah hutan selatan wilayah pemukiman.
Dimasa kecilnya tidak begitu banyak orang yang tahu tentang keaslian asal muasal mbah Asy`ari tersebut, dimana banyak orang yang menggali informasi selalu saja ada halangan dan rintangan, beberapa tokoh dusun tersebut juga kesulitan mendapatkan sejarah yang rinci tentang kehadiran mbah Asy`ari
Selang beberapa tahun kemudian (sebelum belanda menduduki Negara NKRI sekitar tahun 1800 M) desa tersebut tidak bermana namun hanya hutan jati kemudian oleh mbah Asy`ari lokasi tersebut di berinama Dusun jatikunci yang berarti “pusat jati diri” dimana awal mula orang masuk kedusun  tersebut sudah menemukan jati dirinya untuk berjuang dijalan yang benar. Jika ada yang mengartikan Jatikunci adalah pohon jati dan buah kunci maka perlu adanya kroscek ke sesepuh untuk meluruskan cerita tersebut.

Sampai saat ini makam Mbah Asy`ari tetap terawat dengan baik yang lokasinya di sebelah selatan pabrik berkat disitu terdapat sumber air untuk mengairi sawah dan mandi bagi warga sekitar akan tetapi sumber air, tersebut agak jauh dari perkampungan warga kurang lebih 700, meter juga di sebelah makam mbah Asy`ari disampingnya terdapat pemakaman umum warga dusun Jatikunci.

Senin, 05 Desember 2016

KKM Univ. Wijaya Putra Bersama Kartar OPEK di Dusun Kemuning

Portal Sumbersuko 
Oleh : Rizwal Uhuy
-------------------------
Pada hari Minggu, 4 Desember 2016
Karang Taruna OPEK kedatangan tamu mahasiswa dari Fakultas Hukum - Universitas Wijaya Putra Surabaya yang berjumlah 25 mahasiswa.
Adapun maksud kedatangan mahasiswa tsb adalah untuk melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) yang bertujuan untuk memberikan penyuluhan kepada Para Pemuda & juga Warga Dusun Kemuning tentang Peraturan Irigasi & Reboisasi.
Kegiatannya dimulai pukul 07.00 - 12.00 wib diisi dengan kegiatan Penanaman Bibit Pohon & Santunan ke Masyarakat Dusun Kemuning. Pembukaan dilaksanakan di halaman TK 10 Kemuning.
Penghijauan .... Semoga rehabilitasi hutan dan lahan diharapkan mampu menberikan manfaat bagi peningkatan ekonomi kesejahteraan masyarakat Thanks to Univ wijaya putra , pemuda OPEK dan masyarakat kemuning.....”ungkap Tony selaku Pembina karang Taruna






Senin, 10 Oktober 2016

SELAMAT ... INI PEMENANG LOMBA AL BANJARI SE DESA SUMBERSUKO

PORTAL SUMBERSUKO 
Admin : Adim 
------------------------


















Festival lomba Al banjari Desa Sumbersuko di menangkan oleh Group Al Banjari Dusun Sumberingin I
sejarah Al Banjari
Seni terbang Al-Banjari adalah sebuah kesenian khas islami yang berasal dari Kalimantan. Iramanya yang menghentak, rancak dan variatif membuat kesenian ini masih banyak digandrungi oleh pemuda-pemudi hingga sekarang. Seni jenis ini bisa disebut pula aset atau ekskul terbaik di pondok-pondok pesantren Salafiyah. Sampai detik ini seni hadrah yang berasal dari kota Banjar ini bisa dibilang paling konsisten dan paling banyak diminati oleh kalangan santri, bahkan saat ini di beberapa kampus mulai ikut menyemarakkan jenis musik ini.

Hadrah Al-Banjari masih merupakan jenis musik rebana yang mempunyai keterkaitan sejarah pada masa penyebaran agama Islam oleh Sunan Kalijaga, Jawa. Karena perkembangannya yang menarik, kesenian ini seringkali digelar dalam acara-acara seperti maulid nabi, isra’ mi’raj atau hajatan semacam sunatan dan pernikahan. Alat rebananya sendiri berasal dari daerah Timur Tengah dan dipakai untuk acara kesenian. Kemudian alat musik ini semakin meluas perkembangannya hingga ke Indonesia, mengalami penyesuaian dengan musik-musik tradisional baik seni lagu yang dibawakan maupun alat musik yang dimainkan. Demikian pula musik gambus, kasidah dan hadroh adalah termasuk jenis kesenian yang sering menggunakan rebana.

Keunikan musik rebana termasuk banjari adalah hanya terdapat satu alat musik yaitu rebana yang dimainkan dengan cara dipukul secara langsung oleh tangan pemain tanpa menggunakan alat pemukul. Musik ini dapat dimainkan oleh siapapun untuk mengiringi nyanyian dzikir atau sholawat yang bertemakan pesan-pesan agama dan juga pesan-pesan sosial budaya. Umumnya menggunakan bahasa Arab, tapi belakangan banyak yang mengadopsi bahasa lokal untuk kresenian ini.

Jadi, sebagai generasi penerus kita harusnya berbangga hati karena dapat menjaga apa yang telah di ajarkan oleh nabi sebelumnya. Akhirnya, mari kita bersama melestarikan kesenian islami ini. Toh nabi juga tidak pernah melarang ‘seni’. Kita jadikan rebana ini sebagai wahana untuk menggapai cinta-Nya serta meraih syafaatnya sehingga kelak menjadi ummat yang selamat.

Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abdur Rahman al-Banjari (atau lebih dikenal dengan nama Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (lahir di Lok Gabang, 17 Maret 1710 – meninggal di Dalam Pagar, 3 Oktober 1812 pada umur 102 tahun atau 15 Shofar 1122 – 6 Syawwal 1227 H)[1] adalah ulama fiqih mazhab Syafi'i yang berasal dari kota Martapura di Tanah Banjar(Kesultanan Banjar), Kalimantan Selatan. Beliau hidup pada masa tahun 1122-1227 hijriyah. Beliau mendapat julukan anumerta Datu Kelampaian.
Beliau adalah pengarang Kitab Sabilal Muhtadin yang banyak menjadi rujukan bagi banyak pemeluk agama Islam di Asia Tenggara
Jalur nasabnya ialah Maulana Muhammad Arsyad Al Banjari bin Abdullah bin Abu Bakar bin Sultan Abdurrasyid Mindanao bin Abdullah bin Abu Bakar Al Hindi bin Ahmad Ash Shalaibiyyah bin Husein bin Abdullah bin Syaikh bin Abdullah Al Idrus Al Akbar (datuk seluruh keluarga Al Aidrus) bin Abu Bakar As Sakran bin Abdurrahman As Saqaf bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali Maula Ad Dark bin Alwi Al Ghoyyur bin Muhammad Al Faqih Muqaddam bin Ali Faqih Nuruddin bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khaliqul Qassam bin Alwi bin Muhammad Maula Shama’ah bin Alawi Abi Sadah bin Ubaidillah bin Imam Ahmad Al Muhajir bin Imam Isa Ar Rumi bin Al Imam Muhammad An Naqib bin Al Imam Ali Uraidhy bin Al Imam Ja’far As Shadiq bin Al Imam Muhammad Al Baqir bin Al Imam Ali Zainal Abidin bin Al Imam Sayyidina Husein bin Al Imam Amirul Mu’minin Ali Karamallah wajhah wa Sayyidah Fatimah Az Zahra binti Rasulullah SAW.

Masa kecil

Sejak dilahirkan, Muhammad Arsyad melewatkan masa kecil di desa kelahirannya Lok Gabang, Martapura. Sebagaimana anak-anak pada umumnya, Muhammad Arsyad bergaul dan bermain dengan teman-temannya. Namun pada diri Muhammad Arsyad sudah terlihat kecerdasannya melebihi dari teman-temannya. Begitu pula akhlak budi pekertinya yang halus dan sangat menyukai keindahan. Diantara kepandaiannya adalah seni melukis dan seni tulis. Sehingga siapa saja yang melihat hasil lukisannya akan kagum dan terpukau. Pada saat Sultan Tahlilullah sedang bekunjung ke kampung Lok Gabang, sultan melihat hasil lukisan Muhammad Arsyad yang masih berumur 7 tahun. Terkesan akan kejadian itu, maka Sultan meminta pada orang tuanya agar anak tersebut sebaiknya tinggal di istana untuk belajar bersama dengan anak-anak dan cucu Sultan. Di istana, Muhammad Arsyad tumbuh menjadi anak yang berakhlak mulia, ramah, penurut, dan hormat kepada yang lebih tua. Seluruh penghuni istana menyayanginya dengan kasih sayang. Sultan sangat memperhatikan pendidikan Muhammad Arsyad, karena sultan mengharapkan Muhammad Arsyad kelak menjadi pemimpin yang alim.

Menikah dan Menuntut Ilmu di Mekkah

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari mendapat pendidikan penuh di Istana sehingga usia mencapai 30 tahun. Kemudian ia dikawinkan dengan seorang perempuan bernama Tuan Bajut.[7]
Ketika istrinya mengandung anak yang pertama, terlintaslah di hati Muhammad Arsyad suatu keinginan yang kuat untuk menuntut ilmu di tanah suci Mekkah. Maka disampaikannyalah hasrat hatinya kepada sang istri tercinta.
Meskipun dengan berat hati mengingat usia pernikahan mereka yang masih muda, akhirnya isterinya mengamini niat suci sang suami dan mendukungnya dalam meraih cita-cita. Maka, setelah mendapat restu dari sultan berangkatlah Muhammad Arsyad ke Tanah Suci mewujudkan cita-citanya. Deraian air mata dan untaian doa mengiringi kepergiannya.
Di Tanah Suci, Muhammad Arsyad mengaji kepada masyaikh terkemuka pada masa itu. Di antara guru beliau adalah Syekh ‘Athaillah bin Ahmad al-Mishry, al-Faqih Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi dan al-‘Arif Billah Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Hasani al-Madani.
Syekh yang disebutkan terakhir adalah guru Muhammad Arsyad di bidang tasawuf, dimana di bawah bimbingannyalah Muhammad Arsyad melakukan suluk dan khalwat, sehingga mendapat ijazah darinya dengan kedudukan sebagai khalifah.
Selain itu guru-guru Muhammad Arsyad yang lain seperti Syekh Ahmad bin Abdul Mun'im ad Damanhuri, Syekh Muhammad Murtadha bin Muhammad az Zabidi, Syekh Hasan bin Ahmad al Yamani, Syekh Salm bin Abdullah al Basri, Syekh Shiddiq bin Umar Khan, Syekh Abdullah bin Hijazi asy Syarqawy, Syekh Abdurrahman bin Abdul Aziz al Maghrabi, Syekh Abdurrahamn bin Sulaiman al Ahdal, Syekh Abdurrahman bin Abdul Mubin al Fathani, Syekh Abdul Gani bin Muhammad Hilal, Syekh Abis as Sandi, Syekh Abdul Wahab at Thantawy, Syekh Abdullah Mirghani, Syekh Muhammad bin Ahmad al Jauhari, dan Syekh Muhammad Zain bin Faqih Jalaludin Aceh.
Selama menuntut ilmu di sana, Syekh Muhammad Arsyad menjalin persahabatan dengan sesama penuntut ilmu seperti Syekh Abdussamad Falimbani, Syekh Abdurrahman Misri, dan Syekh Abdul Wahab Bugis.
Setelah lebih kurang 35 tahun menuntut ilmu di Maekkah dan Madinah, timbullah niat untuk menuntut ilmu ke Mesir. Ketika niat ini disampaikan dengan guru mereka, Syekh menyarankan agar keempat muridnya ini untuk pulang ke Jawi (Indonesia) untuk berdakwah di negerinya masing-masing.
kerinduan akan kampung halaman. Terbayang di pelupuk mata indahnya tepian mandi yang di arak barisan pepohonan aren yang menjulang. Terngiang kicauan burung pipit di pematang dan desiran angin membelai hijaunya rumput. Terkenang akan kesabaran dan ketegaran sang istri yang setia menanti tanpa tahu sampai kapan penentiannya akan berakhir. Pada Bulan Ramadhan 1186 H bertepatan 1772 M, sampailah Muhammad Arsyad di kampung halamannya, Martapura, pusat Kesultanan Banjar pada masa itu.
Akan tetapi, Sultan Tahlilullah, seorang yang telah banyak membantunya telah wafat dan digantikan kemudian oleh Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidullah I, yaitu cucu Sultan Tahlilullah. Sultan Tahmidullah yang pada ketika itu memerintah Kesultanan Banjar, sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan serta kemajuan agama Islam di kerajaannya.
Sultan Tahmidullah II menyambut kedatangan beliau dengan upacara adat kebesaran. Segenap rakyatpun mengelu-elukannya sebagai seorang ulama "Matahari Agama" yang cahayanya diharapkan menyinari seluruh Kesultanan Banjar. Aktivitas beliau sepulangnya dari Tanah Suci dicurahkan untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Baik kepada keluarga, kerabat ataupun masyarakat pada umumnya. Bahkan, sultan pun termasuk salah seorang muridnya sehingga jadilah dia raja yang ‘alim lagi wara’[8]. Selama hidupnya ia memiliki 29 anak dari tujuh isterinya.