SEMOGA MENJADI KELUARGA YANG SAKINAH MAWADDAH WAROHMAH .. AMIN
News Update!
Selasa, 21 Maret 2017
Sabtu, 31 Desember 2016
SANTUNAN ANAK YATIM PIATU
Author :
SANTUNAN ANAK YATIM PIATU
OLEH PEMERINTAH DESA SUMBERSUKO DAN KARANG TARUNA DESA
DI MASJID DUSUN BUMBUNGAN 2016
Rabu, 28 Desember 2016
MANGGA THAILAND
Author :
PORTAL SUMBERSUKO
Reporter : Adim
--------------------------------------
PT.
Gudang Garam Tbk, Direktorak Porduk
Gempol merelisasikan program CSR yang kesekian kalinya, hal ini berawal dari
beberapa tokoh masyakat yang ingin agar ada tanaman di halaman rumah
masing-masing warga sehingga rumah menjadi sejuk dan terhindar dari hawa panas
dan debu, disamping itu harapan warga agar Sumbersuko sebagai ‘Kampung Mangga
Thailand’ atau kampung mangga Ok yong , pohon mangga jenis ini jarang dimiliki
warga Sumbersuko soalnya satu pohon buahnya bisa lebih banyak dan harum baunya satu
tahun bisa panen 3 kali tandanya kalau
masak kulitnya warna kuning keemasan beda dengan pohon mangga lainnya rasanya
nikmat dan lezat.
Sebelumnya
H. Susianto telah mengakomodir atas permintaan warga pada rapat triwulanan di SDN
Sumbersuko II Desa Sumbersuko sekitar bulan November lalu, pada musyawarah
waktu itu beberapa warga juga meminta agar disusulkan juga untuk buah duku asli,
akan tetapi disepakati waktu itu pohon mangga
Alhamdulillah
... beberapa minggu yang lalu program ini terelasisasi dengan baik dengan di
datangkannya puluhan bibit mangga Thailand dari PT. Gudang Garam Sumbersuko di
Garasi mobil H. Wahyudi, hadir dalam acara tersebut Pak Bayu bersama tim dari
PT. Gudang Garam, Pak Niam dari Pemerintah Desa, Ust. Khoiron R wakil BPD, dan H. Susianto bersama tim tokoh masyarakat. Pada
waktu itu juga ada diskusi dalam hal cara bertanam sampai panen dan berbuah, jika
sudah panen biji pohon mangga tersebut bisa di tanam menjadi bibit baru lagi
begitu dan seterusnya,
Bibit pohon
mangga di bagikan ke warga secara gratis di koordinatori oleh kasun Mushodikin,
hal ini untuk mempermudah distribusi bibit pohon mangga ke warga, akan tetapi
masih banyak warga yang belum kebagian, namun perlu diketahui program pembagian
bibit pohon mangga ini adalah tahap awal dan pada saatnya nanti akan diberikan
lagi bibit yang sejenis kepada dusun lainnya di Desa Sumbersuko.
Berikut tips dan trik
cara menanam pohon mangga Thailand
Pohon mangga yang ditanam dekat rumah, atau
di lahan sempit, sebaiknya sering di lakukan pemangkasan. Dilakukan setelah
selesai panen. Pemangkasan bertujuan untuk mengatur percabangan pohon agar
rapi dan enak dilihat. Jaga ketinggian tajuk pohon maksimal setinggi 3 meter,
agar batang utama dan perakaran tidak cepat membesar yang berpotensi merusak
bangunan di sekitarnya.
Pohon yang dijaga tidak terus tumbuh meninggi
akan memudahkan saat panen. Ide seperti ini telah banyak di terapkan pada
perkebunan buah-buahan di Thailand. Mereka rutin melakukan pemangkasan agar
pertumbuhan melebar, tidak meninggi. Saat panen menjadi mudah. Tak perlu
menggunakan tangga atau memanjat pohon. Cukup berdiri di atas mobil bak terbuka
atau di atas traktor, telah dapat menjangkau buah, manfaat pohon sangat banyak antara lain seperti dirumah admin ada 2 pohon
mangga gadung besar di depan rumah kanan kiri pohon ini tidak boleh ditebang
karena pohon bisa menyerap racun disekitar rumah, hawa jadi sejuk udara jadi
segar.
Bagaimana
dengan pemupukan?
Melakukan perlakuan secara
organik dengan mengocori dengan pupuk organik cair atau pupuk kandang
seperlunya. Jeda waktunya 3 bulan sekali. Sebaiknya tidak menggunakan pestisida
kimiawi maupun zat-zat hormonal perangsang untuk munculnya bunga. Lebih baik dibiarkan tumbuh alami sesuai
dengan kodratnya. Dengan begitu tanaman akan sehat dan menghasilkan buah-buah
organik yang sangat berkualitas.
Selamat berkebun mangga ...
Rabu, 07 Desember 2016
SEJARAH DUSUN JATIKUNCI
Author :
PORTAL SUMBERSUKO
Oleh : Adim
------------------------------
Peta Dusun Jatikunci (Cropping 2009)
Baru-baru ini pada tanggal 10 Oktober 2016
jam 7 malam kasun Jatikunci Hadi Susanto
berkunjung kerumah Admin untuk menceritakan peristiwa ditemuinya penunggu (Seng
Baurekso) Dusun Jatikunci, dari berkomunikasi hingga pada penampakan foto
beliau yang ditunjukkan pada admin, dari hasil kontak bathin, beliau itu Mbah Asyari
waallohu a`lam, semua ini bertanda baik untuk kita semua, amin
Berikut sejarah dusun Jatikunci
Cerita ini dikisahkan dari
hasil MUSDUS (Musyawarah Dusun) bulan Juli 2009
Terbentuknya dusun ini berawal dari datangnya seorang
kakek bernama Mbah Asy`ari dimana waktu itu dusun tersebut masih berupa hutan Jati
dan hutan mahoni sampai ke
lereng gunung Penanggungan, sebenarnya
orang yang bermana mbah Asyari berasal dari wilayah selatan yang sedang
merantau kewilayah tersebut (dimana dulu banyak hutan rindang di bekas pabrik berkat) dalam masa perantauan di tempat itu mbah Asy`ari hendak
membentuk perkumpulan warga untuk mendirikan sebuah kelompok
kecil masyarakat dengan mengedepankan ajaran agama islam bernuansa kejawen, akhirnya hari demi hari Mbah
Asyari sedikit megundang beberapa warga dari gunung penanggungan untuk diajak
bermukim di sana (sekarang
sebelah timur pabrik Varia Usaha, tbk) dalam kesehariannya para warga serta keluarga sesepuh
belajar memahami ajaran islam yang konon waktu itu adalah sebagain besar warga
beragama hindu yang bersumber dari candi belahan di wonosunyo mbah Asy`ari juga
termasuk orang yang ahli dibidang ilmu agama terutama kadigdayaan.
Sebagian besar warga yang bermukim disitu mata
pencahariannya adalah mencari kayu dan menanam ubi-ubian. Untuk warga yang menjadi ternak tidak ada waktu itu dan kondisi airpun juga sedikit
kesulitan di tengah dusun kecuali
yang ada di sebelah hutan selatan wilayah pemukiman.
Dimasa kecilnya tidak begitu banyak orang yang tahu tentang
keaslian asal muasal mbah Asy`ari tersebut, dimana banyak orang yang menggali
informasi selalu saja ada halangan dan rintangan, beberapa tokoh dusun tersebut
juga kesulitan mendapatkan sejarah yang rinci tentang kehadiran mbah Asy`ari
Selang beberapa tahun kemudian (sebelum belanda menduduki
Negara NKRI sekitar tahun
1800 M) desa tersebut tidak bermana namun
hanya hutan jati kemudian oleh mbah Asy`ari lokasi tersebut di berinama Dusun
jatikunci yang berarti “pusat jati diri” dimana awal mula orang masuk kedusun tersebut sudah menemukan jati dirinya untuk
berjuang dijalan yang benar. Jika ada yang mengartikan Jatikunci adalah pohon jati dan
buah kunci maka perlu adanya kroscek ke sesepuh untuk meluruskan cerita
tersebut.
Sampai saat ini makam Mbah Asy`ari tetap terawat dengan baik
yang lokasinya di sebelah selatan pabrik berkat disitu terdapat sumber air
untuk mengairi sawah dan mandi bagi warga sekitar akan tetapi sumber air,
tersebut agak jauh dari perkampungan warga kurang lebih 700, meter juga di
sebelah makam mbah Asy`ari disampingnya terdapat pemakaman umum warga dusun
Jatikunci.
Senin, 05 Desember 2016
KKM Univ. Wijaya Putra Bersama Kartar OPEK di Dusun Kemuning
Author :
Portal Sumbersuko
Oleh : Rizwal Uhuy
-------------------------
Pada hari Minggu, 4 Desember 2016
Karang Taruna OPEK kedatangan tamu mahasiswa dari Fakultas Hukum - Universitas Wijaya Putra Surabaya yang berjumlah 25 mahasiswa.
Adapun maksud kedatangan mahasiswa tsb adalah untuk melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) yang bertujuan untuk memberikan penyuluhan kepada Para Pemuda & juga Warga Dusun Kemuning tentang Peraturan Irigasi & Reboisasi.
Kegiatannya dimulai pukul 07.00 - 12.00 wib diisi dengan kegiatan Penanaman Bibit Pohon & Santunan ke Masyarakat Dusun Kemuning. Pembukaan dilaksanakan di halaman TK 10 Kemuning.
Penghijauan .... Semoga rehabilitasi hutan dan lahan diharapkan mampu
menberikan manfaat bagi peningkatan ekonomi kesejahteraan masyarakat Thanks to Univ wijaya putra , pemuda OPEK
dan masyarakat kemuning.....”ungkap
Tony selaku Pembina karang TarunaKarang Taruna OPEK kedatangan tamu mahasiswa dari Fakultas Hukum - Universitas Wijaya Putra Surabaya yang berjumlah 25 mahasiswa.
Adapun maksud kedatangan mahasiswa tsb adalah untuk melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) yang bertujuan untuk memberikan penyuluhan kepada Para Pemuda & juga Warga Dusun Kemuning tentang Peraturan Irigasi & Reboisasi.
Kegiatannya dimulai pukul 07.00 - 12.00 wib diisi dengan kegiatan Penanaman Bibit Pohon & Santunan ke Masyarakat Dusun Kemuning. Pembukaan dilaksanakan di halaman TK 10 Kemuning.
Senin, 10 Oktober 2016
SELAMAT ... INI PEMENANG LOMBA AL BANJARI SE DESA SUMBERSUKO
Author :
PORTAL SUMBERSUKO
Admin : Adim
------------------------
Festival lomba Al banjari Desa Sumbersuko di menangkan oleh Group Al Banjari Dusun Sumberingin I
sejarah Al Banjari
Seni terbang Al-Banjari adalah sebuah kesenian khas
islami yang berasal dari Kalimantan. Iramanya yang menghentak, rancak dan
variatif membuat kesenian ini masih banyak digandrungi oleh pemuda-pemudi
hingga sekarang. Seni jenis ini bisa disebut pula aset atau ekskul terbaik di
pondok-pondok pesantren Salafiyah. Sampai detik ini seni hadrah yang berasal
dari kota Banjar ini bisa dibilang paling konsisten dan paling banyak diminati
oleh kalangan santri, bahkan saat ini di beberapa kampus mulai ikut menyemarakkan
jenis musik ini.
Hadrah Al-Banjari masih merupakan jenis musik rebana yang mempunyai keterkaitan sejarah pada masa penyebaran agama Islam oleh Sunan Kalijaga, Jawa. Karena perkembangannya yang menarik, kesenian ini seringkali digelar dalam acara-acara seperti maulid nabi, isra’ mi’raj atau hajatan semacam sunatan dan pernikahan. Alat rebananya sendiri berasal dari daerah Timur Tengah dan dipakai untuk acara kesenian. Kemudian alat musik ini semakin meluas perkembangannya hingga ke Indonesia, mengalami penyesuaian dengan musik-musik tradisional baik seni lagu yang dibawakan maupun alat musik yang dimainkan. Demikian pula musik gambus, kasidah dan hadroh adalah termasuk jenis kesenian yang sering menggunakan rebana.
Keunikan musik rebana termasuk banjari adalah hanya terdapat satu alat musik yaitu rebana yang dimainkan dengan cara dipukul secara langsung oleh tangan pemain tanpa menggunakan alat pemukul. Musik ini dapat dimainkan oleh siapapun untuk mengiringi nyanyian dzikir atau sholawat yang bertemakan pesan-pesan agama dan juga pesan-pesan sosial budaya. Umumnya menggunakan bahasa Arab, tapi belakangan banyak yang mengadopsi bahasa lokal untuk kresenian ini.
Jadi, sebagai generasi penerus kita harusnya berbangga hati karena dapat menjaga apa yang telah di ajarkan oleh nabi sebelumnya. Akhirnya, mari kita bersama melestarikan kesenian islami ini. Toh nabi juga tidak pernah melarang ‘seni’. Kita jadikan rebana ini sebagai wahana untuk menggapai cinta-Nya serta meraih syafaatnya sehingga kelak menjadi ummat yang selamat.
Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abdur Rahman al-Banjari (atau lebih dikenal dengan nama Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (lahir di Lok Gabang, 17 Maret 1710 – meninggal di Dalam Pagar, 3 Oktober 1812 pada umur 102 tahun atau 15 Shofar 1122 – 6 Syawwal 1227 H)[1] adalah ulama fiqih mazhab Syafi'i yang berasal dari kota Martapura di Tanah Banjar(Kesultanan Banjar), Kalimantan Selatan. Beliau hidup pada masa tahun 1122-1227 hijriyah. Beliau mendapat julukan anumerta Datu Kelampaian.
Beliau adalah pengarang Kitab Sabilal Muhtadin yang banyak menjadi rujukan bagi banyak pemeluk agama Islam di Asia Tenggara
Jalur nasabnya ialah Maulana
Muhammad Arsyad Al Banjari bin Abdullah bin Abu Bakar bin Sultan Abdurrasyid
Mindanao bin Abdullah bin Abu Bakar Al Hindi bin Ahmad Ash Shalaibiyyah bin
Husein bin Abdullah bin Syaikh bin Abdullah Al Idrus Al Akbar (datuk seluruh keluarga Al Aidrus) bin Abu Bakar As Sakran bin
Abdurrahman As Saqaf bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali Maula Ad Dark bin Alwi
Al Ghoyyur bin Muhammad Al Faqih Muqaddam bin Ali Faqih Nuruddin bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khaliqul Qassam bin Alwi bin
Muhammad Maula Shama’ah bin Alawi Abi Sadah bin Ubaidillah bin Imam Ahmad Al Muhajir bin
Imam Isa Ar Rumi bin Al Imam Muhammad An Naqib bin Al Imam Ali Uraidhy bin
Al Imam Ja’far As Shadiq bin Al Imam Muhammad Al Baqir bin
Al Imam Ali Zainal Abidin bin
Al Imam Sayyidina Husein bin Al
Imam Amirul Mu’minin Ali Karamallah wajhah wa Sayyidah Fatimah Az Zahra binti Rasulullah SAW.
Masa
kecil
Sejak dilahirkan, Muhammad Arsyad melewatkan masa kecil
di desa kelahirannya Lok Gabang, Martapura. Sebagaimana anak-anak pada umumnya,
Muhammad Arsyad bergaul dan bermain dengan teman-temannya. Namun pada diri
Muhammad Arsyad sudah terlihat kecerdasannya melebihi dari teman-temannya.
Begitu pula akhlak budi pekertinya yang halus dan sangat menyukai keindahan.
Diantara kepandaiannya adalah seni melukis dan seni tulis. Sehingga siapa saja
yang melihat hasil lukisannya akan kagum dan terpukau. Pada saat Sultan
Tahlilullah sedang bekunjung ke kampung Lok Gabang, sultan melihat hasil
lukisan Muhammad Arsyad yang masih berumur 7 tahun. Terkesan akan kejadian itu,
maka Sultan meminta pada orang tuanya agar anak tersebut sebaiknya tinggal di
istana untuk belajar bersama dengan anak-anak dan cucu Sultan. Di istana,
Muhammad Arsyad tumbuh menjadi anak yang berakhlak mulia, ramah, penurut, dan
hormat kepada yang lebih tua. Seluruh penghuni istana menyayanginya dengan
kasih sayang. Sultan sangat memperhatikan pendidikan Muhammad Arsyad, karena
sultan mengharapkan Muhammad Arsyad kelak menjadi pemimpin yang alim.
Menikah dan Menuntut Ilmu di Mekkah
Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari mendapat pendidikan penuh di Istana sehingga usia
mencapai 30 tahun. Kemudian ia dikawinkan dengan seorang perempuan bernama Tuan Bajut.[7]
Ketika istrinya mengandung anak yang pertama, terlintaslah di hati Muhammad Arsyad suatu keinginan yang kuat untuk menuntut ilmu di tanah suci Mekkah. Maka disampaikannyalah hasrat hatinya kepada sang istri tercinta.
Meskipun dengan berat hati mengingat usia pernikahan mereka yang masih muda, akhirnya isterinya mengamini niat suci sang suami dan mendukungnya dalam meraih cita-cita. Maka, setelah mendapat restu dari sultan berangkatlah Muhammad Arsyad ke Tanah Suci mewujudkan cita-citanya. Deraian air mata dan untaian doa mengiringi kepergiannya.
Di Tanah Suci, Muhammad Arsyad mengaji kepada masyaikh terkemuka pada masa itu. Di antara guru beliau adalah Syekh ‘Athaillah bin Ahmad al-Mishry, al-Faqih Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi dan al-‘Arif Billah Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Hasani al-Madani.
Syekh yang disebutkan terakhir adalah guru Muhammad Arsyad di bidang tasawuf, dimana di bawah bimbingannyalah Muhammad Arsyad melakukan suluk dan khalwat, sehingga mendapat ijazah darinya dengan kedudukan sebagai khalifah.
Selain itu guru-guru Muhammad Arsyad yang lain seperti Syekh Ahmad bin Abdul Mun'im ad Damanhuri, Syekh Muhammad Murtadha bin Muhammad az Zabidi, Syekh Hasan bin Ahmad al Yamani, Syekh Salm bin Abdullah al Basri, Syekh Shiddiq bin Umar Khan, Syekh Abdullah bin Hijazi asy Syarqawy, Syekh Abdurrahman bin Abdul Aziz al Maghrabi, Syekh Abdurrahamn bin Sulaiman al Ahdal, Syekh Abdurrahman bin Abdul Mubin al Fathani, Syekh Abdul Gani bin Muhammad Hilal, Syekh Abis as Sandi, Syekh Abdul Wahab at Thantawy, Syekh Abdullah Mirghani, Syekh Muhammad bin Ahmad al Jauhari, dan Syekh Muhammad Zain bin Faqih Jalaludin Aceh.
Selama menuntut ilmu di sana, Syekh Muhammad Arsyad menjalin persahabatan dengan sesama penuntut ilmu seperti Syekh Abdussamad Falimbani, Syekh Abdurrahman Misri, dan Syekh Abdul Wahab Bugis.
Setelah lebih kurang 35 tahun menuntut ilmu di Maekkah dan Madinah, timbullah niat untuk menuntut ilmu ke Mesir. Ketika niat ini disampaikan dengan guru mereka, Syekh menyarankan agar keempat muridnya ini untuk pulang ke Jawi (Indonesia) untuk berdakwah di negerinya masing-masing.
kerinduan akan kampung halaman. Terbayang di pelupuk mata indahnya tepian mandi yang di arak barisan pepohonan aren yang menjulang. Terngiang kicauan burung pipit di pematang dan desiran angin membelai hijaunya rumput. Terkenang akan kesabaran dan ketegaran sang istri yang setia menanti tanpa tahu sampai kapan penentiannya akan berakhir. Pada Bulan Ramadhan 1186 H bertepatan 1772 M, sampailah Muhammad Arsyad di kampung halamannya, Martapura, pusat Kesultanan Banjar pada masa itu.
Akan tetapi, Sultan Tahlilullah, seorang yang telah banyak membantunya telah wafat dan digantikan kemudian oleh Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidullah I, yaitu cucu Sultan Tahlilullah. Sultan Tahmidullah yang pada ketika itu memerintah Kesultanan Banjar, sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan serta kemajuan agama Islam di kerajaannya.
Sultan Tahmidullah II menyambut kedatangan beliau dengan upacara adat kebesaran. Segenap rakyatpun mengelu-elukannya sebagai seorang ulama "Matahari Agama" yang cahayanya diharapkan menyinari seluruh Kesultanan Banjar. Aktivitas beliau sepulangnya dari Tanah Suci dicurahkan untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Baik kepada keluarga, kerabat ataupun masyarakat pada umumnya. Bahkan, sultan pun termasuk salah seorang muridnya sehingga jadilah dia raja yang ‘alim lagi wara’[8]. Selama hidupnya ia memiliki 29 anak dari tujuh isterinya.
Ketika istrinya mengandung anak yang pertama, terlintaslah di hati Muhammad Arsyad suatu keinginan yang kuat untuk menuntut ilmu di tanah suci Mekkah. Maka disampaikannyalah hasrat hatinya kepada sang istri tercinta.
Meskipun dengan berat hati mengingat usia pernikahan mereka yang masih muda, akhirnya isterinya mengamini niat suci sang suami dan mendukungnya dalam meraih cita-cita. Maka, setelah mendapat restu dari sultan berangkatlah Muhammad Arsyad ke Tanah Suci mewujudkan cita-citanya. Deraian air mata dan untaian doa mengiringi kepergiannya.
Di Tanah Suci, Muhammad Arsyad mengaji kepada masyaikh terkemuka pada masa itu. Di antara guru beliau adalah Syekh ‘Athaillah bin Ahmad al-Mishry, al-Faqih Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi dan al-‘Arif Billah Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Hasani al-Madani.
Syekh yang disebutkan terakhir adalah guru Muhammad Arsyad di bidang tasawuf, dimana di bawah bimbingannyalah Muhammad Arsyad melakukan suluk dan khalwat, sehingga mendapat ijazah darinya dengan kedudukan sebagai khalifah.
Selain itu guru-guru Muhammad Arsyad yang lain seperti Syekh Ahmad bin Abdul Mun'im ad Damanhuri, Syekh Muhammad Murtadha bin Muhammad az Zabidi, Syekh Hasan bin Ahmad al Yamani, Syekh Salm bin Abdullah al Basri, Syekh Shiddiq bin Umar Khan, Syekh Abdullah bin Hijazi asy Syarqawy, Syekh Abdurrahman bin Abdul Aziz al Maghrabi, Syekh Abdurrahamn bin Sulaiman al Ahdal, Syekh Abdurrahman bin Abdul Mubin al Fathani, Syekh Abdul Gani bin Muhammad Hilal, Syekh Abis as Sandi, Syekh Abdul Wahab at Thantawy, Syekh Abdullah Mirghani, Syekh Muhammad bin Ahmad al Jauhari, dan Syekh Muhammad Zain bin Faqih Jalaludin Aceh.
Selama menuntut ilmu di sana, Syekh Muhammad Arsyad menjalin persahabatan dengan sesama penuntut ilmu seperti Syekh Abdussamad Falimbani, Syekh Abdurrahman Misri, dan Syekh Abdul Wahab Bugis.
Setelah lebih kurang 35 tahun menuntut ilmu di Maekkah dan Madinah, timbullah niat untuk menuntut ilmu ke Mesir. Ketika niat ini disampaikan dengan guru mereka, Syekh menyarankan agar keempat muridnya ini untuk pulang ke Jawi (Indonesia) untuk berdakwah di negerinya masing-masing.
kerinduan akan kampung halaman. Terbayang di pelupuk mata indahnya tepian mandi yang di arak barisan pepohonan aren yang menjulang. Terngiang kicauan burung pipit di pematang dan desiran angin membelai hijaunya rumput. Terkenang akan kesabaran dan ketegaran sang istri yang setia menanti tanpa tahu sampai kapan penentiannya akan berakhir. Pada Bulan Ramadhan 1186 H bertepatan 1772 M, sampailah Muhammad Arsyad di kampung halamannya, Martapura, pusat Kesultanan Banjar pada masa itu.
Akan tetapi, Sultan Tahlilullah, seorang yang telah banyak membantunya telah wafat dan digantikan kemudian oleh Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidullah I, yaitu cucu Sultan Tahlilullah. Sultan Tahmidullah yang pada ketika itu memerintah Kesultanan Banjar, sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan serta kemajuan agama Islam di kerajaannya.
Sultan Tahmidullah II menyambut kedatangan beliau dengan upacara adat kebesaran. Segenap rakyatpun mengelu-elukannya sebagai seorang ulama "Matahari Agama" yang cahayanya diharapkan menyinari seluruh Kesultanan Banjar. Aktivitas beliau sepulangnya dari Tanah Suci dicurahkan untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Baik kepada keluarga, kerabat ataupun masyarakat pada umumnya. Bahkan, sultan pun termasuk salah seorang muridnya sehingga jadilah dia raja yang ‘alim lagi wara’[8]. Selama hidupnya ia memiliki 29 anak dari tujuh isterinya.
Kamis, 29 September 2016
ALHAMDULILLAH … GUDANG BANK SAMPAH SUMBERSUKO AKAN SEGERA DI BANGUN
Author :
PORTAL SUMBERSUKO
Reporter ; Titik Indahyati
------------------------------------
Gambar Ilustrasi Gudang Bank Sampah
Desa Sumbersuko akan
segera memiliki Gudang Bank Sampah yang terletak di sebelah timur sekolah TK Dusun Kemuning yang menempati lahan seluas 10
x 30 M2 , tanah tersebut adalah tanah bengkok atau tanah milik kas desa
Sumbersuko.
Pada tanggal 28
September 2016 Bpk Edi selaku ketua BLH Kabupaten Pasuruan telah mengunjungi
lokasi tersebut dengan beberapa jajaranya termasuk Bapak kepala Desa Sumbersuko,
hal ini dilakukan untuk memastikan adanya lahan yang sudah direncanakan tahun
sebelumnya. Memang tahun kemarin rencananya gudang Bank Sampah akan di bangun
di lapangan Dusun Wonogriyo karena tidak memungkinkan maka di carilah alternative
lahan lain. Sehingga kemungkinan lebih dan cocok untuk dibangun di tengah tengah desa
Sumbersuko yaitu di Dusun Kemuning. Hal ini sudah di akomodir oleh beberapa
pihak terkait.
Mengenai biaya dan
sarana lainnya dalam pembangunan gudang ini akan difasilitasi oleh Pemerintah
Kabupaten Pasuruan melalui Badan lingkungan Hidup (BLH), termasuk bantuan mesin
daur ulang sampah dan tossa sebagai kendaraan pengangkut sampahdan sarana lainnya.
“Ini
nanti akan jadi ikon Desa Sumbersuko, seperti di kota tanggerang dimana omset bank sampah
ditingkat desa lebih dari 1 milyar
pertahun”
tutur Titik Indayati, kaur pemerintah
PERMOHONAN MAAF
Author :
PORTAL SUMBERSUKO
Admin : Slamet
Admin : Slamet
SEHUBUNGAN DENGAN ARTIKEL PADA TANGGAL 22 SEPTEMBER 2016
DENGAN JUDUL
" HIMBAUAN!!!"
DI HAPUS KARENA ITU TIDAK SESUAI DENGAN KETENTUAN DAN VISI MISI
PORTAL SUMBERSUKO.
SELURUH JAJARAN DIREKSI DAN WARTAWAN PORTAL SUMBERSUKO
MENGUCAPKAN PERMOHONAN MAAF YANG SEBESAR BESARNYA
KEPADA SELURUH PEMBACA DIMANAPUN BERADA
ATAS DI MUATNYA ARTIKEL TERSEBUT
DEMIKIAN PEMBERITAHUAN INI DISAMPAIKAN
ATAS PERHATIANNYA DIUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH
SALAM TAKZIM
Minggu, 25 September 2016
‘Tutup Saja Tambang Sirtu Perusak Lingkungan’
Author :
PORTAL SUMBERSUKO
Kontributor : Mas Fatony
(Tokoh dan aktivis Peduli Lingkungan Kab. Pasuruan, warga Sumbersuko )
-------------------------------------------
Dasar hukum penutupan tambang galian C di lereng gunung Penanggungan sesuai SK Gubrnur Jawa Timur
SK Gubernur Jatim Nomor : 188 tertanggal 14 Januari 2015 (Bangsa online)
--------------------------
Keberadaan tambang galian sirtu yang merusak lingkungan, mendapat
perhatian serius dari kalangan aktivis lingkungan hidup. Mereka
menyayangkan keberadaan tambang galian sirtu di Desa Sumber Suko,
Kecamatan Gempol, yang menerabas hutan lindung untuk akses jalan dump
truk pengangkut.
“Meski hanya untuk akses jalan, itu tetap merusak lingkungan hutan
lindung. Itu melanggar undang-undang terkait keberadaan hutan lindung.
Tambang itu harus distop,” kata Fatkhurrahman, Aktivis lingkungan dari
Yayasan Satu Daun Pasuruan.
Menurut Fatkhurrakhman, terlepas lahan yang dijadikan lokasi tambang
sudah menjadi milik pengusahanya, namun lokasi di sekitar tambang adalah
hutan lindung. Sesuai fungsinya, hutan lindung tidak boleh disentuh
oleh manusia, karena hutan lindung untuk menjaga keseimbangan ekosistem
yang ada di dalamnya.
Baik itu keaneka ragaman hayati berupa jenis tanaman, satwa-satwa
yang terdapat di dalamnya hingga untuk menjaga keseimbangan lingkungan
hidup. Yakni menjadi daerah tangkapan air yang harus dijaga
kelestariannya.
Apalagi keberadaan tambang sirtu di Desa Sumber Suko tersebut, meski
agak jauh, posisinya berada di bawah Candi Belahan/Sumber Tetek. Padahal
di Gunung Penanggungan yang sudah ditetapkan Gubernur Jawa Timur,
Soekarwo, sebagai Kawasan Cagar Budaya,. Karena diyakini masih banyak
situs peninggalan masa kerajaan yang belum ditemukan.
Dan kebetulan, di atas tambang itu juga terdapat beberapa sumber air
yang dimanfaatkan warga sekitarnya untuk kebutuhan sehari-hari. Alasan
agar aktifitas penambangan yang informasinya sudah mengantongi ijin
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasuruan itu semakin kuat untuk
dihentikan.
“Ketersedian air di sekitar lokasi tambang pasti akan menyusut.
Buktinya sungai yang berdekatan dengan hutan lindung, debit airnya sudah
jauh berkurang, karena sumbernya mengecil dan bahkan bisa mati,” imbuh
Fatkhur.
Bukan hanya di Desa Sumber Suko saja yang adanya aktifitas
penambangan. Di sekitar Desa Kenep, Kecamatan Beji, tidak jauh dari ruas
jalan yang menghubungkan Bangil-Pandaan, juga terdapat aktifitas
penambangan sirtu.
“Rupanya lokasi tambang sirtu Itu baru beroperasi sekitar 5 hari.
Banyak dump truk pengangkut sirtu yang keluar masuk lokasi itu. Itupun
juga harus dihentikan, karena kondisi keseimbangan alam sudah goyah,”
ujar Fatkhurrahman.
Sementara itu, M Irsyad Yusuf saat ditanya keberadaan penambangan
sirtu di sekitar Kawasan Gunung Penanggungan maupun di Kawasan Pasuruan
Barat, menyampaikan tidak akan mengeluarkan lagi ijin untuk eksplorasi.
“Iya benar, saya sudah tidak akan lagi mengeluarkan ijin untuk penambangan di daerah itu,” tegas M Irsyad Yusuf.
Dari salah seorang staf di Dinas Perijinan dan Penanaman Modal
Kabupaten Pasuruan , yang enggan disebut namanya diperoleh informasi,
memang perijinan tambang untuk Kawasan Gunung Penanggungan dan sebagian
di Pasuruan bagian Barat, tidak akan dikeluarkan lagi.
“Yang bisa beroperassi hanya yang masih mengantongi ijin. Itupun dengan syarat harus menjaga keseimbangan lingkungan,” ujarnya. | TIMU
Gunung Penanggungan telah ditetapkan menjadi kawasan cagar budaya.
Itu tertuang dalam SK Gubernur Jatim No 188 tertanggal 14 Januari 2015,
setelah sebelumnya, para pecinta alam yang tergabung dalam Save Pawitra
memprotes rencana pemkab yang akan membangun jalan wisata Gunung
Penanggungan.
Dalam SK Gubernur ini terdapat delapan poin larangan
terkait kawasan cagar budaya Gunung Penanggungan. Diantaranya, dilarang
merusak, mencuri serta mendokumentasikan cagar budaya, baik secara
keseluruhan maupun bagian-bagiannya untuk kepentingan komersial tanpa
seijin pemilik atau yang menguasainya.
Melalui Dinas Pariwisata
Jawa Timur, SK Gubernur ini dikirim ke Dinas Pariwisata Kabupaten
Mojokerto, Dinas Pariwisata Kabupaten Pasuruan dan Rektor Universitas
Surabaya. Kabag Hukum Pemkab Mojokerto Nugroho Budi Sulistiyo
mengatakan, akan segera menindaklanjuti SK Gubernur tersebut dengan
membuat Perda Cagar Budaya Gunung Penanggungan.
“Khusus soal rencana pembangunan jalan akan segera dikoordinasikan dengan pemangku kepentingan,” cetusnya. Seperti
Diberitakan
sebelumnya jalan baru menuju puncak Gunung Penanggungan tahun ini akan
dibangun dengan konstruksi cor beton oleh pemkab setempat menuai
kontroversi.
Ribuan pecinta alam dari berbagai daerah di Jawa
Timur menggelar aksi galang tanda tangan di pos pendakian Lembaga
Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Sumber Lestari, Desa Tamiajeng, Kecamatan
Trawas, Mojokerto guna menentang rencana pemkab tersebut. Begitu juga
para budayawan dan sejarahwan serta Balai Pelestarian Cagar Budaya
(BPCB) Trowulan menentang proyek tersebut.
Bahkan Kepala BPCB
Trowulan Aris Soviyani mengancam akan melaporkan kasus ini ke Gubernur
Jawa Timur jika bupati tetap ngotot melenjutkan proyek ini. Alasannya,
ada ratusan situs yang belum tergali di area Gunung Penanggungan.
Jalan
selebar 7 meter ini sendiri rencananya bakal dibangun mulai dari pos
pendakian di Desa Tamiajeng sampai ke kaki Gunung Penanggungan. Dari
kaki gunung, pemkab akan membangun tangga cor beton selebar 6-7 meter
hingga ke puncak gunung. Tak tanggung-tanggung, dana yang dialokasikan
dari APBD 2015 mencapai Rp 8 miliar dan pengerjaannya akan mulai April
mendatang.
Sumber : http://www.wartabromo.com/2015/03/04/tutup-saja-tambang-sirtu-perusak-lingkungan/
Sumber : http://www.bangsaonline.com/berita/8413/penanggungan-ditetapkan-kawasan-cagar-budaya-oleh-gubernur
Jumat, 23 September 2016
SELAMAT HARI JADI KABUPATEN PASURUAN KE 1087
Author :
PORTAL SUMBERSUKO
Admin : Wiwik Syafaati. S.Pd
----------------------------
Moment upacara hari jadi Pasuruan skaligus pengumuman hasil berbagai lomba 17 agustus Alhamdulillah karnaval sumbersuko juara 2 tingkat kecamatan...meski harapan tak sesuai kenyataan,tapi semangat, kreativitas, pengorbanan, kekompakan, dan ketulusan warga bagi kita tetap juara 1....maju terus desaKu...sukses dan semangat terus sahabatku....
Admin : Wiwik Syafaati. S.Pd
----------------------------
MENUJU PASURUAN GEMUYUH
Moment upacara hari jadi Pasuruan skaligus pengumuman hasil berbagai lomba 17 agustus Alhamdulillah karnaval sumbersuko juara 2 tingkat kecamatan...meski harapan tak sesuai kenyataan,tapi semangat, kreativitas, pengorbanan, kekompakan, dan ketulusan warga bagi kita tetap juara 1....maju terus desaKu...sukses dan semangat terus sahabatku....
Langganan:
Postingan (Atom)














































