News Update!

Senin, 16 Mei 2011

PROFIL DESA SUMBERSUKO

BAB II

PROFIL DESA SUMBERSUKO

2.1. SEJARAH DESA

Untuk memperjelas alur sejarah Desa Sumbersuko berikut kami sampaikan sejarah dusun di seluruh Desa Sumbersuko mulai dari yang paling barat sampai ke timur.

2.1.1 Sejarah Dusun

a. Dusun Jatikunci

Terbentuknya dusun ini berawal dari datangnya seorang kakek bernama Mbah Asy`ari dimana waktu itu dusun tersebut masih berupa hutan jati dan hutan mahoni sebenarnya orang yang bermana mbah Asyari berasal dari wilayah selatan yang sedang merantau kewilayah tersebut (dimana dulu banyak hutan rindang) dalam masa perantauan di tempat itu mbah Asy`ari hendak membentuk perkumpulan untuk mendirikan sebuah kemlompok kecil dengan mengedepankan ajaran agama islam akhirnya mbah Asyari sedikit demi sedikit megundang beberapa warga dari gunung penanggungan untuk diajak bermukim di sana serta belajar memahami ajaran islam yang konon waktu itu adalah sebagain besar warga beragama hindu yang bersumber dari candi belahan di wonosunyo mbah Asy`ari juga termasuk orang yang ahli dibidang ilmu agama terutama kadigdayaan.

Sebagian besar warga yang bermukim disitu mata pencahariannya adalah mencari kayu dan menanam ubi-ubian. Untuk ternak tidak ada waktu itu dan kondisi airpun juga sedikit kesulitan di tengah desa keculai yang ada di sebelah hutan selatan wilayah pemukiman.

Dimasa kecilnya tidak begitu banyak orang yang tahu tentang keaslian asal muasal mbah Asy`ari tersebut, dimana banyak orang yang menggali informasi selalu saja ada halangan dan rintangan, beberapa tokoh dusun tersebut juga kesulitan mendapatkan sejarah yang rinci tentang kehadiran mbah Asy`ari

Selang beberapa tahun kemudian (sebelum belanda menduduki Negara NKRI) desa tersebut tidak bermana namun hanya hutan jati kemudian oleh mbah Asy`ari lokasi tersebut di berinama Dusun jatikunci yang berarti “pusat jati diri” dimana awal mula orang masuk kedesa tersebut sudah menemukan jati dirinya untuk berjuang dijalan yang benar.

Sampai saat ini makam Mbah Asy`ari tetap terawat dengan baik yang lokasinya di sebelah selatan pabrik berkat disitu terdapat sumber air untuk mengairi sawah dan mandi bagi warga sekitar akan tetapi sumber air, tersebut agak jauh dari perkampungan warga kurang lebih 700, meter juga di sebelah makam mbah Asy`ari disampingnya terdapat pemakaman umum warga dusun Jatikunci.

b. Dusun Kaliputih

Beberapa tokoh masyarakat meyakini bahwa asal muasal dusun Kaliputih berasal dari nama sumber mata air di sebelah timur dusun. Akan tetapi masih banyak warga yang kurang yakin jika nama dusunnya berasal dari nama itu, berikut adalah sekilas sejarahnya.

Pada awal masuknya penjajah belanda di wilayah itu terdapat beberapa kelompok masyarakat yang melakukan transmigrasi (perpindahan penduduk dari pulau lain kepulau tetangga) konon semua warga terebut berasal dari keturunan orang Madura tulen yang waktu itu (tidak diketahui waktu persisnya) terjadi perpindahan besar-besaran sekitar tahun 1660 M oleh warga Madura memasuki pulau jawa dan sebagian kecil memasuki wilayah subur ini. Dari peristiwa inilah asal muasal dusun tersebut diberi nama.

Seorang tokoh sesepuh bernama Mbok Min menuturkan kalau dirinya pernah mendengar cerita dari orang tuanya dulu bahwa keberadaan dusun kaliputih tidak terlepas dari keturunann orang-orang madura meskipun sampai saat ini logat bicaranya orang dusun kaliputih persis seperti orang madura. Pada masa dahulu dusun ini adalah sebuah hutan yang lebat yang sedikit sekali tegal untuk menanam palawija yang ada hanya beberapa pohon mente yang tumbuh dimana-mana. Setelah tokoh warga dusun tersebut melakukan kegiatan penanaman pohon di sekitar perbatasan dengan dusun Sumberingin beberapa orang telah menemukan sumber air yang sangat besar sekali yang keluar dari semak-semak pohon beringin airnya terasa dingin dan segar sekali sehingga sumber air tersebut melebar ke persawaan warga kemudian mengaliri tegal di sekelilingnya, akhirnya dusun tersebut diberi nama dusun Kali Putih yang berarti ”air putih” meskipun penamaan ini tidak diproklamasikan secara resmi oleh sesepuh desa namun waktu itu hanya dijadikan sebagai julukan saja lama-kelamaan nama kaliputih diresmikan sebagai mana dusun tersebut.

c. Dusun Sumberingin

Sebelum Belanda memasuki Indonesia sekitar pertengahan abad 13 M. datanglah seorang kakek dari wilayah barat mengunjungi sebuah hutan yang begitu lebat degan pohon-pohon besar beliau melewati pegunungan untuk dapat mencapai tujuan yang dimaksud beberapa hari kemudian, beliau menemukan sebuah tempat yang kiranya nanti bisa dihuni oleh kelompoknya, mereka sebenarnya berkelompok untuk menyatukan tujuan yang sama yaitu berdakwah kepelosok hutan, pada suatu ketika salah seorang diantaranya itu sedang melakukan semedi atau tahannus di sebuah lokasi yang agak curah dalam disamping aliran air sungai dari gunung, semedi itu lama sekali ia tidak beranjak dari tempatnya akhirnya beliau menemukan sebuah sumber air disampingnya lantas beliau beranjak untuk melihat kondisi sumber air yang terus mengalir itu sehingga beliau merawatnya sumber air itu untuk kehidupan sehari-harinya agar lebih menyejukkan lokasi dan memperindah tempat itu maka beliau menanaminya dengan 3 buah pohon Bringin disamping sudut kanan dan sudut kiri untuk selamanya ditengahnya beliau tanami dengan pohon Suko, siapakah beliau yang sebenarnya. Beliau adalah Ki Ageng Kanjeng Sunan Sumberkerto dengan ketiga santrinya yaitu :

1. Mbah Sari

2. Mbah Saruti

3. Mbah Sartingah

Ketiga santrinya yang sekaligus dijadikan asisten juga memiliki murid tersendiri, akhinya dari hari-kehari ditebangi pohon-pohon rindang disekeliling mereka maka makin luaslah tempat mereka melakukan aktifitas sehari-hari dan dalam kehidupannya mereka selalu bergotong royong, dan untuk lebih memantapkan sebuah lokasi tersebut maka berembuklah Ki Ageng Sumberkerto dengan anak buahnya bahwa sumber air yang dikelilingi pohon Bringin dijadikan simbol nama Desa sedangkan pohon suko dijadikan symbol kerajaan Desa akhirnya diambil dari dua kata yaitu sumber air dan Pohon bringin menjadi nama SUMBER BRINGIN (Sumber dari Pohon Bringin) karena bahasa terlalu sulit diucapkan maka diringkas menjasi SUMBERINGIN, desa ini memiliki 3 lokasi yang saat ini menjadi Sumberingin I dan II, dulunya pada waktu pembabatan hutan diwilayah sebelah selatan di babat oleh Mbah Sari kemudian disebut dusun Kebonsari, Mbah Saruti membabat hutan disebelah utara akhirnya disebut Sumberserut, pembabat hutan sebelah Barat oleh Mbah Sartingah lalu dusunnya dinamakan Karang tengah, setelah itu ketiga Dusun tersebut sampai saat ini dijadikan 2 Dusun menjadi Dusun Sumberingin I (Sumberringin + Kebon sari) dan Sumberingin II (Sumberingin + Sumber serut)+ Karang tengah

Tentang makam :

Makam orang- orang soleh tersebut sampai saat ini masih ada dan terawat dengan baik makam tersebut terletak di wilayah sumberingin I dan telah di renovasi oleh Bpk Nyugianto selaku sesepuh dusun

d. Dusun Wonogriyo

Nama desa ini di tidak terlepas dari usaha tokoh yang membabat dusun sumberingin yaitu

§ Mbah Sari

§ Mbah Saruti

Dusun Kebon sari atau tepatnya dusun sumberingin 1 itu sejatinya orang yang mebabat juga termasuk orang yang membabat dusun wonogriyo (rumah hutan). Dimana pada waktu itu mbah Sari dengan beberapa santrinya membuka lahan di hutan tersebut untuk lahan pertanian, jadi dusun wonogriyo terbentuk setelah dusun Sumberingin I di tempati sebagai tempat bermukim masyarakat, karena itu luas dusun wonogriyo tidak lebih dari 20 Ha.

e. Dusun Bumbungan

Adalah dusun yang dulunya tempat orang sumbersuko yang menggunakan bumbung untuk kegiatan panen padi pada musimnya. sebenarnya sejarah dusun ini tidak terlepas dari sejarah dusun Sumbersuko yang memang bersampingan dengan dusun Bumbungan, di dusun ini segala aktivitas panen raya dilakukan dimana dusun itu sebenarnya dulu ikut dengan dusun sumbersuko 1 namun karena terlalu luas wilayah dusun sumbersuko maka di pecah menjadi dua dengan nama dusun Bumbungan dan Sumbersuko.

f. Dusun Sumbersuko

Mbah Suko adalah salah seorang tokoh masyarakat pendatang dia terkenal kesaktiannya sejak jaman dahulu menurut sumber cerita beliau bisa menghilang hanya dengan sekejap mata.

Pada suatu saat Mbah Suko yang berasal dari wilayah gunung arjuna (prigen) sedang melalukan perjalan yang jauh menuju beberapa desa untuk melakukan perang dengan kelompok warga lain dari dusun sebelah utara sumberingin sehingga pada suatu saat mbah Suko berhenti di tengah hutan dari situ Mbah Suko mulai kerasan dengan letak dan geografis hutan tersebut akhirnya hutan tersebut dibabat untuk dibuat landang persawahan bagi anak buahnya.

g. Dusun Ngipik

Sejarah ini tidak terlepas dari kerjasama antara beberapa tokoh warga sekitar ngadisono, dusun ini adalah merupakan bagian dari ngadisono dimana waktu itu mbah sarkowi selaku sesepuh di tempat tersebut telah membabat alas yang dulunya banyak dihuni mahluk halus yang sering menggangu oran klurak maupun desa lain yang lewat disitu, akhirnya beberapa orang yang pernah lewat disitu sering bermimpi yang aneh aneh jadi nama dusun ngipik itu artinya ‘ngipi’ (mimpi) bahasa jawanya ngipi … sehingga lantas beberapa orang menyepakati kalo tempat tersebut dinmai dusun ngipi karena lidah orang jawa ngak mau di repotin jadi dipanggil Ngipik biar lebih tegas dan lebih fundamental serta menunjukkan identitas yang lebih semburna daripada ngipi.

h. Dusun Ngadisono

Dusun ini terletak diantara dusun klurak dan dusun ngipik sebelah barat berbatasan dengan dusun Kemuning, sebenarnynya dusun ini lebih dulu lahir dari pada dusun Ngipik karena mbah sarkowi tersebutlah yang membabat hutan itu, menurut beberapa sumber yang lebih sepuh di dusun ngasdisono sebenarnya sudah ada seorang kakek tua yaitu mbah dul begitu akrab panggilannya namun mbah dul tersebut merantau keluar wilayah untuk mencari limu linuweh agar suatu saat kembali lagi punya bekal, sehingga dusun ngadisono berasal dari kata Ngabdi ’ ngawulo / menjadi hamba ’sono’ disana ’ gek kono / disono jadi waktu itu mbah sarkowi tau kalau yang membabat hutan tersebut mbah dul yang waktu itu langsung meninggalkan dusun tersebut akhirnya mbah sarkowi menamai dusun tersebut dengan Ngabdisono karena biar gak merepotin sekali lagi lidah orang jawa akhirnya sepakat untuk di beri naman ’ ngadisono.

i. Dusun Kemuning

Dusun ini berbatasan langsung dengan dusun ngadisono dan sebelah selatan berbatasan dengan dusun Kriyan dan Sebelah barat berbatasan dengan dusun Sumbersuko II sebelah utara berbatasan dengan dusun Sumbersuko I

Konon cerita dusun ini memang lain dari yang lain karena waktu itu ada seorang gadis cantik yang sedang menedambakan seorang pria pujaannya dia datang kehutan tersebut untuk menyendiri karena laki-laki sang pujaannya tidak kunjung datang untuk menemuinya akhirnya gadis tesebut bermukim di tempat itu yang dulunya adalah ladang tersebut memang awalnya itu adalah tegal milik penguasa jaman kerajaan candi belahan dan tidak ada rumah sedikitpun akhirnya gadis tesebut menemukan bunga yang indah mananya bunga kemuning, dengan inilah maka gadis tersebut medambkan laki-laki pujaannya dengan bunga kemuning tersebut meskipun laki-laki tersebut tidak pernah hadir akhirnya ada seorang kakek yang membuat rumah disitu seingga gadis tersebut diasuh dibawah binaannya akhir kakek tersebut menyebutkan tempat itu sebagai sejarah gadis kemuning akhinya lama-kelamana dengn sendirinya menjadinama dusun yaitu dusun kemuning

j. Dusun Sumberbendo

Dusun ini berbatasan dengan dusun Kriyan secara langsung dan sebelah barat berbatasan dengan Desa Kesiman dan sebelah Selatan Sumbergedang Kec. Pandaan

Pada masa akhir kependudukan belanda yang saat itu desa tersebut sebagai markas pejuang TNI yang tidak kalah penting andilnya dalam mempersatukan kesatuan NKRI, dulu watu itu ada seorang kakek bernama mbah dipo mbah dipo ini orangnya kurus tapi kuat sekali dalam berbagai hal yang lebih memberikan manfaat adalah kesaktiannya dalam melawan penjajah, sekali pukul langsung 2 jaminan, dia sakti mandraguna tapi tutur katanya lembut dan bersahaja serta berwibawa. Sebagian para leluhur tanah tersebut tidka tahu persih asal mula munculnya dusun Sumberbendo namun yang tau adalah mbah dipo dia sendiri yang mengetahui arti namanya sebelum tau persis asli dan latar belakang desa tersebut jadi tidak ada yang tahu asal usul dusun tersebut kecualimbah dopi tapi menurutversi terbaru yang telah kami miliki bahwa nama sumebr bendo adalah arti dari sumber = asal/ mula, tempat mengalirnya air dari tanah, ’ bendo adalah keris atau golok jadi sumberbendo adalah sumbernya keris atau golok.

k. Dusun Kriyan

Dusun ini berbatasan dengan dusun Sumberbendo sebelah barat dan berbatasan dengan Desa Sumbergedang sebelah timur sebelah utara berbatasan dengan dusun Klurak. Kriyan adalah sebuah dusun dimana dusun tersebut melakukan kegiatan seni anyaman bambu keterampilan tangan dan fungsi untuk mengolah bahan baku yang sering ditemukan di lingkungan tersebut menjadi benda-benda yang tidak hanya bernilai pakai, tetapi juga bernilai tinggi begitu juga dengan dusun tersebut orang2 dulu berdatangan ketempat orang jawa itu dulu yang memiliki usaha anyaman bambu waktu itu memang tidak ada hanya orang itu akhirnya jual beli mereka dengan barter akhirnya dusun tersebut dinamakan dusun kriyan.

l. Dusun Klurak

Dusun ini berbatasan langsung dengan dusun Sumbersuko II dan Dusun Ngadisono, dusun ini sebenarnya ada dua yaitu dusun Klurak sendiri dan dusun Bendungan, dan sejarah dusun ini berkaitanerat dengan dusun yang lainnya. Pada jaman kerajaan dusun tersebut terdapat prasasti antara sebuah kerajaan dimana waktu itu salah seorang menemukan prasasti tersebut akhirnya orang dulu menyebutkan desa itu adalah prasasti atau klurak sesepuh tersebut setelah ditelusuri tidak tahu dimana prasasti tersebut di simpan atau sekarang sudah pindah tangan, lama kelamanaan tempat tersebut dimanakan dusun klurak

2.1.2. Demografis

Penduduk Desa Sumbersuko murni 100% adalah warga desa dimana penduduk ini bahasa kesehariannya memakai bahasa jawa jumlah penduduk saat ini adalah 5986 jiwa, belum termasuk warga pendatang dari seluruh penjuru termasuk wilayah malang blitar nganjuk dan mancanegara seperti cina, taiwan, singapore, jepang dan amerika mereka sebagai pengusaha dan bermukim disitu untuk mengelolah perusahaan lain-lain untuk berkerja di parik, suku dan ras adalah keturuan jawa 85% 9% adalah keturuanan Madura 6% campuran, warna kulit sawo matang ras terbanyak adalah kaum perempuan. Jumlah penduduk 5986 jiwa.

2.1.3. Keadaa Sosial

Masyarakat sumbersuko merupakan masyarakat yang multi dimensi dimana di sana terdapat berbagai ras dan suku, agama warga asli 100% muslim dan pendatang sekitar 5% non muslim, kegiatan tersbesar adalah kerja sebagai buruh pabrik, dan setiap satu minggu ada pertemuan jamaah warga yasinan atau tahlil di setia dusun masing-masing, urusan politik beraneka ragam serta warga nadlatul Ulama hampir 80% jiwa sebagian besar tamatan pendidikan 30% lulusan SMA 10% jiwa lulusan sarjana dan 60% warga lulusan SMP dan SD, dilihat dari keadaan seperti ini perlu sekali ditingkatkan kwalitas pendidikannya.

2.1.4. Keadaan Ekonomi

Pada saat ini Penduduk Desa Sumbersuko hampir mencapai 6000 jiwa dimana mata pencahariannya 60% sebagai buruh Pabrik, 10% wirausaha/ toko 5% sebagai Petani 9%, 0,5% sebagai PNS sebagai pengusaha 6% adalah pekerjaan campuran, sejak tahun 1967 Desa Sumbersuko dimasuki dunia indrustri yaitu perusahaan VUB Semen Gresik hingga sekarang menjadi pabrik air minum SWA di era 90-an sudah banyak perusahaan berdiri di Desa Sumbersuko hampir 5 pabrik yang berdiri disana dan sampai saat ini adapun tingkat ekonomi secara umum 69% cukup, 30% miskin, 20% kaya, hal ini perlu ditingkatkan untuk kehidupan warga miskin di desa Sumbersuko

2.2. Profil Pemerintahan Desa

2.2.1 Legenda Desa Sumbersuko

Pada jaman penjajahan belanda sekitar abad ke 18 M. sebelum Desa ini diberi nama Desa Sumbersuko sekelompok tentara belanda telah memasuki wilayah ini dengan dalih ekpansi penguasaan datang dari arah candi watu tetek di lereng pegunungan sekitar 20 Km sebelah barat di mana waktu itu setelah kerajaan Majapahit runtuh atas serangan dari kerajaan demak maka wilayah situs-situs candi bersejarah milik bangsa Indonesia di boyong oleh tentara belanda melalui jalan desa ini di waktu secara bersamaan mereka menguasasi desa ini. Pada tanggal 17 Agustus 1945 kemenangan berpihak atas pemerintah Indonesia dengan ini maka dimulailah pemerintahan baru dimulai, pada waktu itu yang menjabat kepala desa pertama kali sebagai berikut :

No

Nama

Jabatan

Masa Periode

1.

M. Ya`kub

Petinggi

1945 – 1960

2.

H.M Ya`kub

Petinggi

1960 – 1970

3.

H.M Yusuf

Petinggi

1973 – 1980

4.

H.M Yusuf

Kepala Desa

1980 – 1987

5.

H.M Yusuf

Kepala Desa

1987 – 1995

6.

H.M Yusuf

Kepala Desa

1995 – 2000

7.

H.M Zainuri

Kepala Desa

2000 – 2008

8.

Wahari

Kepala Desa

2008 – 2014

9

?

Kepala Desa

2014 – 2019

2.2.2 Penyelenggaraa Pemerintah saat ini

Para aparatur dan pembantu pemerintahan desa Sumbersuko periode 2008 – 2014 adalah sebagai berikut:

No

Nama

Jabatan

Surat Keputusan Pengangkatan

Nomor

Tanggal

Pejabat yang mengangkat

1

Wahari

Kepala Desa

141/1246/HK/424.022/2007

12/05/2007

Bupati

2

Drs. H. Suparman

Sekdes

821/570/424.073/2010

16/10/2010

Bupati

3

Titik Indahyati

Kaur Pemerintah

141/05/SK/424.12.2002/2003

20/07/2003

Kepala Desa

4

H. Supangat

Kaur Pembangunan

141/16/SK/424.12.2002/2003

06/08/2002

Kepala Desa

5

H. Samsul Huda

Kaur Kesejahteraan

141/03/SK/424.12.2002/2003

09/10/2002

Kepala Desa

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan di komentari yang sopan dan santun, komentar langsung muncul disini, pilih anonymous atau lainnya, oke